Hamdani dan Kepemimpinan PGRI Kabupaten Bekasi

Hamdani dan Kepemimpinan PGRI Kabupaten Bekasi

Oleh: Karman K. Arre (Sekretaris PGRI Kabupaten Bekasi)

Sebelum lanjut, penulis menyatakan disclaimer, ini hanya tentang PGRI Kabupaten Bekasi, tidak  menegasikan peran serta legacy para pemimpin terdahulu. Penulis juga tidak bermaksud mengglorifikasi dan mengamplifikasi atau melakukan NPD kepada Ketua PGRI Kabupaten Bekasi, selain menguraikan fakta apa yang telah dilakukan dalam kepemimpinannya yang belum genap dua tahun.  Kepemimpinan dalam organisasi profesi bukan tentang siapa yang berdiri paling depan, tetapi tentang siapa yang mampu membawa organisasi tetap berjalan ketika zaman berubah, tantangan datang, dan harapan anggota semakin besar. Dalam konteks itulah, sosok Hamdani dan kepemimpinan PGRI Kabupaten Bekasi menarik untuk dibaca bukan hanya sebagai persoalan figur, melainkan sebagai bagian dari perjalanan sebuah organisasi yang memiliki sejarah panjang dalam memperjuangkan martabat guru. 

PGRI bukan organisasi yang lahir dari ruang yang nyaman. Ia tumbuh dari semangat perjuangan para guru untuk menjaga kehormatan profesi, memperjuangkan kesejahteraan, serta memastikan pendidikan tetap menjadi jalan utama membangun peradaban. Karena itu, memimpin PGRI sesungguhnya adalah menerima sebuah mandat sejarah. 

Hamdani dan Tantangan Kepemimpinan

Di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, guru tidak lagi hanya berhadapan dengan persoalan pembelajaran, tetapi perubahan teknologi, tuntutan profesionalisme, perubahan kebijakan, persoalan kesejahteraan, perlindungan hukum, hingga perubahan karakter generasi.  Dalam situasi seperti itu, kepemimpinan PGRI Kabupaten Bekasi membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan administratif. Dibutuhkan kepemimpinan yang membumi (down to earth), mampu mendengar, merangkul, memperjuangkan, dan mengambil keputusan. Hamdani, dalam konteks kepemimpinan memiliki tantangan menjadikan organisasi bukan sekadar tempat berkumpul para pengurus, tetapi rumah besar bagi guru. Rumah yang membuat anggota merasa memiliki, merasa dilindungi, dan merasa bahwa perjuangan mereka tidak berjalan sendirian. 

Penulis mencatat hal-hal yang sudah dilakukan dan diperjuangkan dalam kepemimpinan yang belum genap 2 tahun sebagai berikut :

  • Berada di garis terdepan dalam memperjuangkan perubahan status guru honorer menjadi ASN PPPK, baik pada level Kabupaten mau pun mengawal sampai level nasional. 
  • Mengadvokasi guru-guru yang menghadapi persoalan hukum. 
  • Membuat jejaring informasi organisasi melalui aplikasi Sistem Informasi Terintegrasi (Sifinter). 
  • Menginisiasi dan mendorong lahirnya Peraturan Daerah Perlindungan Guru dan Tenaga Kependidikan melalui hak inisiatif DPRD Kabupaten Bekasi. 
  • Membangun kemitraan dengan berbagai Perguruan Tinggi yang ada di Kabupaten Bekasi. 
  • Melaksanakan Bimbingan Teknik Keprofesian seperti Koding dan Kecerdasan Artifisial yang menjadi tuntutan zaman. 
  • Seminar tentang Keterbukaan Informasi dengan menghadirkan Komisioner Komisi Informasi Provinsi Jawa Barat. 
  • Menciptakan Hymne PGRI Kabupaten Bekasi, untuk membangun ikatan emosional. 
  • Menghadirkan anggota DPD RI dalam rangka Seminar Public Speaking. 
  • Pemberian Anugerah Kehormatan Acarya Ratnakara kepada para tokoh yang berjasa dalam bidang pendidikan dan organisasi di Kabupaten Bekasi. 
  • Penghargaan dari PGRI Provinsi Jawa Barat dan PB. PGRI terkait Tata Kelola Tertib Iuran. 
  • Mendorong (endorse) pemerintah untuk perubahan status ASN PPPK baik penuh waktu maupun paruh waktu untuk menjadi ASN PNS. 

Itu hal yang sudah dilakukan tentu banyak hal lainnya yang belum semua penulis sampaikan, at least menggambarkan kepemimpinan seorang Hamdani.  Ukuran keberhasilan organisasi bukan hanya banyaknya kegiatan, yang lebih penting adalah seberapa jauh organisasi dirasakan manfaatnya bagi anggota. Guru membutuhkan organisasi yang hadir ketika menghadapi persoalan profesi, membutuhkan ruang pengembangan kompetensi, membutuhkan jejaring, membutuhkan perlindungan, dan membutuhkan advokasi. Hamdani sudah melakukan hal yang dibutuhkan di atas, walau belum sempurna sesuai ekspektasi anggota. 

Kepemimpinan yang Berpihak kepada Guru

Kepemimpinan PGRI akan kembali pada satu kata keberpihakan.  Berpihak kepada guru bukan berarti membenarkan semua tindakan guru. Berpihak berarti memastikan guru mendapatkan perlakuan yang adil, perlindungan yang layak, kesempatan berkembang, serta ruang untuk menyampaikan aspirasi secara bermartabat. 

Menjadikan PGRI sebagai Rumah Besar Guru Kabupaten Bekasi

Hamdani dan kepemimpinan PGRI Kabupaten Bekasi bukan hanya tentang satu nama. Ia adalah tentang bagaimana sebuah kepemimpinan mampu menerjemahkan harapan ribuan guru menjadi gerakan organisasi.  PGRI harus menjadi rumah besar yang pintunya terbuka bagi semua guru, tanpa membedakan status, latar belakang, maupun tempat bertugas. Perbedaan pandangan boleh terjadi  tetapi tidak boleh kehilangan persaudaraan.   

Sebab kekuatan PGRI bukan terletak pada satu orang ketua. Kekuatan PGRI terletak pada persatuan para guru. 

Hamdani memiliki kesempatan untuk menorehkan kepemimpinan yang bukan hanya dikenang karena masa jabatannya  tetapi karena jejak perubahan yang ditinggalkannya. Karena kepemimpinan bukan tentang  lama masa jabatan, tetapi tentang perubahan yang dilakukan. Penulis yakin Hamdani memiliki kapasitas dan kapabilitas  untuk melakukan itu, perubahan exactly.


Tambun, 19 Agustus 2026

Terima kasih, klik ❌ untuk menutup