Oleh: Marta Wijaya
Big Bang: Awal Mula Semesta dalam Kajian Sains dan Isyarat
Al-Qur'anManusia selalu bertanya: "Dari mana kita berasal?"
13,8 miliar tahun lalu, sains menjawab dengan teori Big
Bang. 1400 tahun lalu, Al-Qur'an telah menyebutkannya dengan bahasa wahyu.
Ketika keduanya dipertemukan, kita dapat pelajaran tentang
"bagaimana" dan "siapa" di balik penciptaan.
1. Titik Awal: Dari Yang Padu Menjadi Terpisah
Versi Sains
Semua materi, energi, ruang, dan waktu dulunya menyatu dalam
singularitas. Titik super panas dan padat. Lalu terjadi pengembangan dahsyat
yang kita sebut Big Bang. Setelah itu barulah ada waktu.
Versi Al-Qur'an
"Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui
bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian
Kami pisahkan antara keduanya..." (QS. Al-Anbiya: 30)Kata
"ratqan" = menyatu, padat, tidak terpisah. "Fataqnā" = Kami
belah, Kami pisahkan.
Banyak ilmuwan dan ahli tafsir kontemporer seperti Prof.
Harun Yahya dan Dr. Maurice Bucaille melihat kesejajaran ini. Langit dan bumi
yang "padu" lalu "dipisahkan" mirip dengan konsep alam
semesta yang berasal dari satu titik lalu mengembang.
2. Proses Pengembangan: Semesta yang Terus Meluas
Versi Sains
Tahun 1929, Edwin Hubble membuktikan galaksi-galaksi
menjauhi kita. Tahun 1998, ditemukan bahwa pengembangan itu malah semakin cepat
karena energi gelap. Semesta tidak statis, dia dinamis.
Versi Al-Qur'an
"Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan Kami dan
sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya." (QS. Adz-Dzariyat: 47)Kata
"lamūsi‘ūn" berasal dari "ausa'a" yang artinya meluaskan,
melebarkan. Ini sangat eksplisit. Di abad ke-7, gagasan langit yang terus
mengembang adalah hal yang belum pernah dibayangkan manusia. Baru 13 abad
kemudian sains membuktikannya.
3. Tahapan Penciptaan dan Lahirnya Bintang
Versi Sains
Butuh waktu: 3 menit: Terbentuk Hidrogen dan Helium 380.000
tahun : Atom terbentuk, cahaya bebas200 juta tahun : Bintang pertama
menyala Miliaran tahun : Supernova membentuk unsur berat seperti Karbon, Besi,
Emas. Dari unsur inilah planet dan manusia terbentuk.
Versi Al-Qur'an
"Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam
masa..." (QS. Al-A’raf: 54). Para
ulama menafsirkan "6 masa/ayyam" bukan harus 6x24 jam.
"Yaum" bisa berarti periode, tahapan, era. Ini membuka ruang bagi
proses kosmologi yang panjang.
Al-Qur'an juga menyebut : "Dan Kami jadikan dari air
segala sesuatu yang hidup." (QS. Al-Anbiya: 30)Air = H2O. Hidrogen adalah
unsur pertama yang lahir setelah Big Bang. Tanpa Hidrogen tidak ada air, tidak
ada kehidupan.
4. Dari Gelap Menuju Terang : CMB
Versi Sains
Ada "Zaman Kegelapan Kosmik". Selama 380 ribu
tahun cahaya tidak bisa berjalan karena terus ditabrak elektron. Setelah atom
netral terbentuk, cahaya bebas. Sisa cahaya itu sekarang jadi Radiasi Latar
Kosmik Mikro dengan suhu 2,7 Kelvin.
Versi Al-Qur'an
"Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit
dan bumi dan mengadakan gelap dan terang..." (QS. Al-An’am: 1) Urutan
"gelap lalu terang" ini menarik. Secara kosmologi memang begitu :
semesta gelap dulu, baru setelah rekombinasi cahaya bisa merambat.
5. Batas Sains dan Ranah ImanSains bisa menjelaskan
mekanisme: gravitasi, fusi nuklir, ekspansi.
Tapi sains berhenti di pertanyaan "sebelum Big Bang ada
apa?" karena waktu itu sendiri dimulai di sana. Al-Qur'an
mengingatkan : "Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan
sedikit." (QS. Al-Isra: 85). Dan juga menegaskan tujuan : "Tidaklah Kami
ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan
main-main." (QS. Ad-Dukhan: 38). Jadi sains menjawab "bagaimana
prosesnya", wahyu menjawab "siapa yang menciptakan" dan
"untuk apa".
6. Menjaga Adab dalam Menafsirkan Penting untuk kita
ingat 3 prinsip : Al-Qur'an bukan buku sains.
Dia buku petunjuk. Kalau ada kesejalanan dengan sains, itu
ibrah. Jangan memaksa ayat. Tafsir
ilmiah harus didukung ahli tafsir dan bahasa Arab.Sains bisa berubah. Teori
kemarin bisa gugur besok. Tapi wahyu tetap.Allah sendiri berfirman : "Kami
akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap ufuk dan pada
diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah
benar..." (QS. Fussilat: 53)
Penutup : Debu Bintang yang Bertasbih Dari satu titik
singularitas, lahirlah galaksi, bintang, planet, dan akhirnya manusia. Setiap
atom dalam tubuh kita dulunya ditempa di jantung bintang.Sains menyebutnya
"nukleosintesis bintang". Al-Qur'an menyebutnya
"penciptaan".
Keduanya tidak bertabrakan. Justru saling melengkapi. Semakin kita paham "bagaimana" semesta bekerja, seharusnya semakin
kita bertasbih kepada "Siapa" yang merancangnya. "Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat
tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal" (QS. Ali Imran: 190).