Oleh: Karman K. Arre (Sekretaris PGRI Kab. Bekasi)
Tulisan ini terilhami oleh Ketua PGRI Kabupaten Bekasi, Hamdani, S.Pd, MM pada satu perbincangan santai di depan Musholla Gedung Guru PGRI Kabupaten Bekasi.
"Jika ingin melihat masa depan sebuah bangsa, lihatlah bagaimana bangsa itu memperlakukan gurunya" Di tengah riuhnya berbagai Program Strategis Nasional (PSN), kita sering lupa pada satu hal yang paling mendasar: membahagiakan orang-orang yang membangun peradaban. Mereka adalah guru. Guru bukan sekadar profesi. Guru adalah penyalur harapan, penanam nilai, dan penjaga masa depan bangsa. Dari ruang kelas yang sederhana, mereka menyalakan cahaya pengetahuan yang kelak menerangi kehidupan jutaan anak Indonesia. Namun, sudahkah kita bertanya, apakah mereka sendiri telah merasakan kebahagiaan?
Mungkin sudah saatnya kita menggagas sebuah gerakan sederhana: Mari Bahagiakan Guru (MBG). Membahagiakan guru bukan hanya soal menaikkan kesejahteraan, meski itu merupakan hak yang harus diperjuangkan. Kebahagiaan guru juga lahir dari penghormatan, kepercayaan (trust), dan penghargaan atas dedikasi yang mereka berikan setiap hari. Guru akan merasa bahagia ketika pendapatnya didengar, ketika profesionalismenya dihargai, ketika tidak selalu menjadi pihak yang disalahkan atas setiap persoalan pendidikan. Guru akan semakin bersemangat ketika masyarakat memandang mereka sebagai mitra dalam mendidik anak, bukan sekadar pelaksana kurikulum.
Di sekolah kebahagiaan guru tumbuh dari budaya kerja yang saling mendukung. Kepala sekolah yang menjadi pemimpin pembelajar, rekan sejawat yang saling menguatkan, peserta didik yang menghormati, dan orang tua yang membangun komunikasi dengan penuh kepercayaan akan melahirkan ekosistem pendidikan yang sehat. Guru adalah profesi yang bekerja dengan harapan. Mereka menanam pohon yang buahnya mungkin tidak pernah mereka nikmati. Mereka membangun masa depan yang mungkin akan dikenang oleh generasi setelahnya. Seperti akar pohon, guru bekerja dalam diam, tetapi menopang kehidupan. Ketika kebenaran senyap, gurulah yang menggaungkan.
Gerakan Mari Bahagiakan Guru (MBG) bukanlah tanggung jawab pemerintah semata. Ini adalah gerakan bersama. Orang tua dapat memulainya dengan menghargai setiap usaha guru. Masyarakat dapat memulainya dengan mengembalikan martabat guru sebagai sosok yang layak dihormati. Pemerintah dapat memastikan kebijakan pendidikan pada penguatan profesionalisme dan kesejahteraan guru. Organisasi profesi dapat terus menjadi rumah perjuangan dan pengembangan kompetensi anggotanya.
Kita sering mengatakan bahwa pendidikan adalah investasi masa depan. Jika demikian, maka guru adalah investasi yang paling berharga. Merawat kebahagiaan guru berarti merawat masa depan bangsa. Sudah saatnya kita tidak hanya meminta guru menjadi hebat, tetapi juga memastikan mereka hidup dengan layak, bekerja dengan nyaman, dan mengabdi dengan bahagia. Karena pada akhirnya, murid yang bahagia lahir dari guru yang bahagia, dan bangsa yang maju berawal dari guru yang dimuliakan.
Mari Bahagiakan Guru (MBG). Sebab ketika guru tersenyum, pendidikan menemukan harapannya, dan Indonesia sedang menyiapkan masa depannya. Sebagai sebuah gagasan gerakan Mari Bahagiakan Guru (MBG), yang dicetuskan oleh Ketua PGRI Kabupaten Bekasi, sangat layak untuk didukung dan diejawantahkan.
Tambun, 9 Juli 2026