Sabtu, 22 Agustus 2026
Tema ini mengingatkan kita pada sebuah kebenaran mendasar dalam dunia pendidikan : tidak akan ada pembelajaran yang membahagiakan di dalam kelas, jika para pendidiknya sendiri belum merasakan kebahagiaan dalam menjalankan tugasnya. Guru yang bahagia adalah kunci utama dari hadirnya lingkungan belajar yang kondusif, kreatif, dan berdaya saing bagi anak-anak kita di Kabupaten Bekasi. Dalam momentum yang sangat berharga ini, Ketua PGRI Kabupaten Bekasi menyampaikan beberapa realita, aspirasi, serta harapan dari para guru di lapangan demi memperkuat pilar kolaborasi.
1. Keadaan dan Keberagaman Status Guru di Kabupaten Bekasi
Ruang-ruang kelas di seluruh penjuru Kabupaten Bekasi hari ini berdiri kokoh karena ketulusan para pendidik yang datang dari beragam latar belakang status kepegawaian. Di panggung pendidikan kita saat ini, berdiri para Guru PNS yang terus menjadi pilar stabilitas, para Guru PPPK Penuh Waktu dan PPPK Paruh Waktu yang membawa kesegaran dedikasi baru, hingga saudara-saudari kita para Guru Honorer yang meski dalam keterbatasan, tetap berdiri tegak mengajar dengan keikhlasan luar biasa (Catatan: silakan disisipkan angka pasti jumlah guru masing-masing status sesuai data basis data/Dapodik terbaru). Seluruh insan pendidik ini—apa pun status kepegawaiannya—adalah aset terbaik Kabupaten Bekasi. Mereka adalah ujung tombak yang memastikan tidak ada satu pun anak di daerah ini yang kehilangan haknya untuk belajar.
2. Ketertiban Administrasi, Fleksibilitas, dan Efektivitas Jam Kerja
Menyikapi kebijakan administrasi dan sistem absensi yang diberlakukan oleh BKPSDM Kabupaten Bekasi, kami di PGRI sangat memahami dan mendukung pentingnya akuntabilitas, penegakan disiplin, serta profesionalisme ASN. Rekan-rekan guru pada prinsipnya memiliki komitmen penuh untuk memenuhi standar beban kerja 37,5 jam per minggu sesuai regulasi yang ditetapkan.
Namun demikian, kita juga menyadari bersama bahwa karakteristik profesi guru memiliki dinamika tersendiri. Tugas seorang pendidik sering kali tidak selesai saat bel sekolah berbunyi; ada tugas menyiapkan perangkat pembelajaran, mengoreksi lembar jawaban, hingga memberikan pendampingan emosional kepada siswa yang melampaui batas jam dinding sekolah. Oleh karena itu, kami berharap sistem pencatatan kehadiran dapat diselaraskan dengan fleksibilitas dan kenyamanan kerja guru, sehingga kedisiplinan tetap terjaga tanpa mengurangi ruang gerak dan kekhususan peran pendidik di lapangan.
3. Kerinduan akan Pelayanan Prima bagi Guru dan Tenaga Kependidikan
PGRI Kabupaten Bekasi sangat mengapresiasi berbagai langkah perbaikan administrasi yang telah dilakukan oleh Dinas Pendidikan selama ini. Namun, jika kita melihat lebih dekat ke akar rumput, masih banyak rekan-rekan Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) yang merindukan hadirnya pelayanan administrasi yang lebih prima, cepat, dan responsif. Dengan harapan, forum sinergitas ini menjadi titik awal bagi lahirnya sistem tata kelola kepegawaian dan fasilitasi kesejahteraan yang lebih humanis, ramah, dan solutif bagi setiap insan pendidikan di Kabupaten Bekasi.
4. Kendala Validasi Tunjangan Profesi Guru (Sertifikasi)
Secara khusus, kami juga ingin menyuarakan kegelisahan rekan-rekan guru terkait Tunjangan Profesi Guru (TPG). Di lapangan, masih terdapat cukup banyak guru yang status sertifikasinya dinyatakan "Belum Valid" dalam sistem, yang berdampak pada tertundanya hak-hak mereka. Dalam suasana kekeluargaan ini, bila diperkenankan, kami ingin memohon arahan, informasi, dan petunjuk dari Bapak Kepala Dinas—sekiranya kendala teknis atau administratif apa yang saat ini menjadi hambatan utama dalam proses validasi tersebut? Serta langkah taktis dan fasilitasi apa yang bisa kita upayakan bersama agar proses validasi ini dapat berjalan lebih lancar dan hak para guru dapat segera terealisasi?
5. Komitmen Berjalan Bersama Menyelesaikan Permasalahan Pendidikan
Berbagai catatan dan aspirasi yang saya sampaikan tadi sama sekali tidak dimaksudkan untuk mencari kelemahan, melainkan sebagai wujud kepedulian dan rasa memiliki kami terhadap dunia pendidikan di Kabupaten Bekasi. Kompleksitas permasalahan pendidikan tidak mungkin bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Oleh karena itu, melalui podium ini, PGRI Kabupaten Bekasi menegaskan komitmennya untuk selalu siap berdiri berdampingan, duduk bersama, dan berjalan serasi dengan Dinas Pendidikan. Mari kita jadikan PGRI sebagai mitra strategis, tempat berdiskusi, dan wadah gotong royong dalam merumuskan solusi atas setiap tantangan pendidikan di daerah yang kita cintai ini.
6. Permohonan Kebijakan Work From Home (WFH) saat Libur Semester Siswa
Ketua PGRI Kabupaten Bekasi menyuarakan satu bisikan hati dan kerinduan terdalam dari seluruh rekan-rekan Guru dan Tenaga Kependidikan di Kabupaten Bekasi. Sepanjang satu semester penuh, rekan-rekan GTK telah menguras seluruh tenaga, pikiran, dan emosi di ruang-ruang kelas. Mereka mendidik ratusan anak bangsa dengan sabar, menyelesaikan tumpukan administrasi hingga larut malam, hingga tidak jarang waktu untuk keluarga tercinta di rumah terpaksa terkikis. Rasa lelah secara fisik dan mental (burnout) adalah keniscayaan yang nyata mereka rasakan di akhir semester. Ketika kalender pendidikan memasuki masa libur semester bagi para siswa, gedung-gedung sekolah sunyi dari aktivitas belajar mengajar. Namun di saat yang sama, para guru sering kali masih diharuskan hadir secara fisik hanya demi menuntaskan kewajiban presensi di sekolah yang kosong. Oleh karena itu, dari lubuk hati yang paling dalam, kami memohon kebijaksanaan dan ketukan hati Bapak Kepala Dinas. Mungkinkah di masa libur semester siswa tersebut, rekan-rekan GTK dapat diberikan ruang untuk melaksanakan tugas secara fleksibel melalui skema Work From Home (WFH) atau Work From Anywhere (WFA)?
Permohonan ini bukanlah bentuk keinginan untuk melalaikan kewajiban, melainkan sebagai bentuk apresiasi dan pemulihan stamina (recharging energy) bagi para pendidik. WFH saat siswa libur akan memberikan kesempatan bagi guru untuk meregangkan otot yang tegang, mengobati keletihan mental, dan membagi sedikit waktu berkualitas bersama keluarga di rumah—tanpa mengurangi tanggung jawab penyusunan perangkat pembelajaran untuk semester berikutnya. Kami sangat meyakini, jika bapak pendidik kita merasakan perhatian dan kasih sayang dari pimpinannya melalui kebijakan ini, mereka akan kembali ke sekolah di semester baru dengan senyuman yang lebih cerah, semangat yang kembali membara, dan hati yang penuh rasa syukur demi anak-anak Bekasi tercinta.
7. Permohonan Kebijakan Surat Edaran Penggunaan Seragam Batik PGRI "Kusuma Bangsa" Setiap Tanggal 25
Ketua PGRI Kabupaten Bekasi menyampaikan satu lagi asa yang tersimpan rapat di dalam dada setiap guru di Kabupaten Bekasi. Bagi orang awam, selembar kain batik mungkin hanyalah pakaian kerja biasa. Namun bagi kami, para pendidik, Batik PGRI "Kusuma Bangsa" adalah cermin identitas, lambang kehormatan, dan pengikat jiwa korsa perjuangan para guru. Ketika seorang guru mengenakan seragam tersebut, tumbuh rasa bangga yang tak ternilai harganya—rasa bangga menjadi bagian dari keluarga besar pengabdi bangsa. Setiap tanggal 25, yang merupakan tanggal bersejarah lahirnya PGRI, kami merindukan momen di mana seluruh guru di penjuru Kabupaten Bekasi dapat berdiri sejajar, mengenakan seragam kebanggaan yang sama secara serentak. Ada kehangatan emosional dan rasa persaudaraan yang membuncah ketika sesama pendidik saling menyapa di jalan, di ruang guru, maupun di lapangan sekolah dengan batik Kusuma Bangsa yang membalut tubuh mereka. Oleh karena itu, dengan kerendahan hati yang paling dalam, kami mengetuk pintu hati Bapak Kepala Dinas. Sudi kiranya Bapak memberikan restu dan dukungan moral melalui penerbitan. Surat Edaran resmi Dinas Pendidikan terkait kewajiban/himbauan penggunaan Batik PGRI "Kusuma Bangsa" bagi seluruh GTK pada tanggal 25 setiap bulannya.
Goresan tanda tangan Bapak pada Surat Edaran tersebut bukan sekadar legalitas formal di atas kertas, melainkan sebuah bentuk pengakuan, pelukan hangat, dan penguat kebanggaan bagi puluhan ribu guru di Kabupaten Bekasi. Surat Edaran itu akan menjadi warisan kepemimpinan Bapak yang begitu membekas di hati kami, menjadi bukti nyata bahwa pimpinan kami bangga dan berdiri teguh bersama rumah besar PGRI.
Penutup
Ketika Dinas Pendidikan dan PGRI melangkah dengan irama yang sama, PGRI Kabupaten Bekasi optimistis tidak ada benang kusut yang tidak bisa kita uraikan. Mari kita rapatkan barisan, satukan visi, dan wujudkan iklim kerja yang kondusif, adil, dan sejahtera demi melahirkan Guru Kabupaten Bekasi yang Bahagia dan berdaya. Terima kasih atas perhatian, kesabaran, dan kebersamaan Bapak Kepala Dinas beserta seluruh jajaran.
Demikian materi kegiatan ini yang secara resmi disampaikan oleh Ketua PGRI kabupaten Bekasi H. Hamdani, S.Pd.MM yang dilanjutkan dengan tanya jawab.